Ketika Sang Kakek Naik Commuterline


Senja telah tiba dan angin dingin mulai terasa, ketika itu ku lihat Sang Gajayana melintas langsung dengan megahnya di ujung sana. Sekilas kemegahan itu tak terasa akan berakhir, namun tiba-tiba mata ku tertuju pada sesosok bapak tua yang berjalan perlahan mencari tempat beristirahat.

Dengan tenang beliau bersantai sejenak sembari menunggu kereta yang tak kunjung tiba. Kursi kayu ini pun menjadi tumpuan baginya, lalu dikeluarkannya selembar kartu putih yang asing baginya.

Tanpa bertegur sapa, beliau tersenyum kepadaku dan mulailah sebuah kisah singkat ….

“Dahulu, ketika Kakek masih sekolah, Kakek bisa naik kereta tidak dengan kartu putih ini, cukup dengan muka memelas, bisa naik sesuka hati.

Dahulu, Kakek bisa menaiki atap lokomotif pada saat hari hujan, sudah pasti bokong akan terasa lebih hangat di sana.

Tapi….

Oktober itu, semua berubah menjadi kelam…

Kakek ingat… ingat sekali….di mana-mana mayat bergelimpangan, darah tercium hingga jauh, rambut-rambut tersisa di mesin lokomotif; saksi bisu sebuah tragedi paling memilukan yang pernah Kakek ingat…

Kakek ingat… membantu melepaskan mereka yang telah tiada, begitu pilu hati Kakek, kenapa semua ini bisa terjadi…”

Melihat beliau melamun, ku sandarkan diriku dan berkata… “Apakah semua berbeda sekarang, Kek?”

Dengan tersenyum, beliau berkata,
Semua sudah berubah ya, ketika Kakek ingin masuk, ada mas-mas gagah seperti tentara membantu Kakek membeli tiket, sampai lewatin mesin masuk itu, sekarang lebih rapi loh, Dek…”

“Dahulu stasiun ini kotor sekali, bahkan kalau kita kepepet, bisa lari ke pohon situ untuk buang air, dan tidak ada yang marah…”

“Sekarang kereta nya dingin juga… Dahulu masih syukur terangkut keretanya, kita tidak memikirkan dingin atau enggak nya, pokoknya pulang selamat, kantong hemat…”

Setelah obrolan itu, kereta yang ditunggunya pun tiba…

Berjalan masuk dengan perlahan bagaikan mempelai yang hendak menikah…

Tiba-tiba Kakek pun berkata “Kalau kamu sudah besar nanti, jangan keseringan naik mobil ya, Dek…Kalau dulu, Kakek harus naik mobil karena jauh dan jalan tidak seramai sekarang… Besok naik ini saja, dingin…. Hahahaha…”

Ketika kereta itu berhenti, beliau pun berpisah denganku…

Saling melepas dengan senyum dan lambaian tangan

Tak sempat ku tanya namanya, bahkan alamat rumahnya…

Pengalaman baru pun tercipta dari obrolan singkat itu….. Pengalaman mengajarkan kita segalanya, masa lalu yang kelam perlahan berganti menjadi masa depan yang menjanjikan…

Ku ingat masa kelam itu…. semoga tidak (dan jangan sampai) terulang lagi…

Terima kasih Kakek atas pengalaman singkatnya…

Dan itulah, ketika Sang Kakek naik commuterline… πŸ™‚

Iklan