Derita Si Kualat…


Daripada bingung, sembari pelarian sejenak dari yang “S”-itu, coba bikin cerpen ah…

Alkisah ada sebuah keluarga “Pak Lumpia” di negeri antah berantah yang hidup dengan bahagia. Mereka tidak makmur layaknya saudagar-saudagar di negeri seberang, tidak pula berkekurangan dalam hal apapun karena mereka hidup dengan sederhana. Namun, yang menjadi keprihatinan keluarga ini adalah; tetangga mereka. Hidup lama di daerah itu ternyata menciptakan kebosanan dalam diri mereka. Seandainya bisa membeli rumah di tempat yang lebih baik, mungkin akan mereka jalani.

Melalui penulis, mereka ingin mengungkapkan perasaan mereka. Penelitian sejak 2 tahun yang lalu ternyata menunjukkan fakta tersebut. Dikisahkan salah satu tetangga mereka adalah keluarga “Pak Capcay” (sebut saja begitu) dan keluarga “Pak Fuyunghai” (maaf, lagi kepikiran chinese food soalnya hehehe).

Mereka menceritakan bagaimana keluarga Capcay ini berinteraksi dengan sesama. Dahulu kala, ketika penulis dianggap masih seusia anak TK, keluarga Capcay ini baru menempati rumah di depan rumah keluarga Pak Lumpia. Mereka tampak ramah dan berkecukupan, hingga satu ketika Pak Capcay jatuh sakit dan membutuhkan bantuan dari tetangga sekitar, alhasil, seluruh RT/RW/Lurah/Camat/Bupati/Walikota pun sampai turun tangan menyumbang demi kesembuhan Pak Capcay. Tahun berikutknya, beliau sudah kembali sehat, namun apa yang terjadi sungguh mengherankan, keluarga ini sangat tertutup dan tidak mau membantu tetangga lainnya. “Mungkin sedang penyembuhan”, ujar tetangga di sebelahnya.

Tahun demi tahun berlalu, keluarga Pak Lumpia memang memiliki asisten rumah tangga, sebut saja “Neng Mawar”. Ada keanehan yang terjadi setelah Pak Capcay jatuh sakit di seberang, suplai makanan di rumah Pak Lumpia selalu habis, bahkan sebelum waktunya. Hingga Bu Lumpia pun membeli beras hingga 50 kg, minyak goreng 5 liter, mie instan hingga 3 kardus, bahkan belum 1 bulan pasca hari belanja, barang-barang itu sudah habis. “Lantas ke mana kah beras, minyak, hingga mie instan ini?”, keluh Bu Lumpia.

Selidik, mulai selidik, ternyata beras, minyak, hingga mie instan itu berlari ke rumah Pak Capcay. Ketika Bu Capcay memiliki anak, lantas mereka membutuhkan makanan, maka dipanggilah beras, minyak goreng, hingga mie instan dari rumah Pak Lumpia. Loyal sekali Neng Mawar memberikan makanan “gratis” kepada tetangga yang satu ini. Bu Lumpia pun naik pitam, karena keterbatasan uang akibat Pak Lumpia yang sedang krisis keuangan, di sisi lain asisten rumah tangganya malah menghambur-hamburkan makanan yang berharga kepada tetangga-tetangga yang bahkan sering menyindir keluarga mereka, tanpa izin, tanpa terima kasih, tanpa meminta maaf. Hingga saat dipecat pun, tidak ada satu kata maaf ataupun terima kasih dari Neng Mawar atau keluarga Pak Capcay akibat hal itu.

Mulai ke sini, perilaku keluarga Pak Capcay mulai membuat panas tetangga sekitar, mulai dari memamerkan kekayaannya; memakai kalung emas, anting 500 karat, bahkan saat menyapu pun dipakai, hingga menyetel lagu keras-keras di mobilnya. Mereka pun mulai sombong dan malas menyapa tetangga sekitarnya. Keluarga Lumpia pun hanya bisa menahan marah dan sembari berdoa “semoga masih diampuni Tuhan”. Hingga satu ketika, saat mereka sedang berjalan-jalan, tidak sengaja mobil Pak Lumpia melindas kaki anak kecil, yang bernama “Si Bakpau Kecil”, kebetulan rumahnya berbeda 1 blok dari rumah Pak Lumpia, Bakpau Kecil yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menangis sambil pulang ke rumah dengan kaki yang pincang. Mendengar ceritanya, Ibu Bakpau pun marah dan segera menghubungi suaminya di kantor. Keluarga Pak Bakpau pun segera mendatangi rumah Pak Capcay dengan emosi, selain karena Pak Capcay tidak memberikan bantuan atau kompensasi untuk Si Bakpau Kecil, permintaan maaf pun tidak terdengar, justru Pak Capcay malah mengatakan “Si Kecil” yang salah, siapa suruh berdiri deket-deket sama ban mobil, ya kelindas lah…” Mendengar itu, Pak Bakpau hampir saja memukul beliau dengan kunci stir mobil, namun karena tidak ada itikad baik dari keluarga Pak Capcay, akhirnya Pak Bakpau lantas pulang dan menyimpan dendam, para tetangga pun ikut membantu agar Si Bakpau Kecil dapat dironsen dan segera diobati oleh dokter.

Tidak hanya sampai di situ, keluarga Capcay pun mulai menunjukkan arogansinya, satu ketika di Sabtu siang, Bu Lumpia menyempatkan diri mengunjungi tetangga sekitar, salah satunya adalah Bu Pala. Kebetulan rumah Bu Pala bersebelahan dengan Pak Capcay. Dikaruniai tiga orang anak, dan salah satunya masih kecil, membuat rumah ini ramai dan sedikit-sedikit kotor. Saat Bu Lumpia sedang mampir, tiba-tiba Bu Capcay keluar rumah dan mencaci maki Bu Pala dengan segenap tenaga. Alasannya, jemuran yang dia letakkan di depan rumah, tidak sengaja sedikit tersiram oleh anak Bu Pala yang sedang bermain air. Mendengar caci maki itu pun, Bu Pala tidak banyak berkutik, tidak mampu melawan karena memang mereka tidak berkecukupan seperti Bu Capcay. Hingga satu kalimat terucap “Maaf, Bu Capcay. Kami bukan siapa-siapa, kaya pun tidak”, lalu dibalas dengan ketus oleh Bu Capcay, “Ya, memang. Kalian itu miskin, gak ada apa-apanya, kalau saya mah udah kaya dari sananya”. Mendengar pernyataan itu, Bu Lumpia segera menenangkan Bu Pala, “Bu Pala, tenang aja, orang itu gak akan lama hidup kaya, liat aja nanti kualat, ibu yang sabar ya.. udah lupain aja”.

Waktu berlalu, hari demi hari, ucapan Bu Lumpia pun ternyata menjadi kenyataan. Bu Pala yang dulu hidup seadanya, kini perlahan-lahan mulai sejahtera karena Pak Pala sudah mendapat pekerjaan yang layak, anak-anaknya pun tumbuh besar, dan untuk mencegah konflik yang sama, Bu Pala pindah rumah ke blok di belakang. Seraya berpamitan dengan Bu Lumpia, Bu Pala berterima kasih atas bantuan yang selalu diberikan Bu Lumpia dengan tulus.

Lantas bagaimana dengan keluarga Capcay?

Diceritakan bahwa kondisi ekonomi yang sulit pun ternyata menghampiri keluarga Pak Capcay, proyek mulai sepi, tidak ada inisiatif mencari kerja, selalu bergantung dengan saudara, pola inilah yang membuat mereka malas dan akhirnya terjatuh dalam “kemiskinan baru”. Ketika itu terjadi, para tetangga pun sudah tidak peduli dengan mereka, dan hanya menyindir, “tuh rasain miskin…”.

Bu Capcay yang dulu arogan dan sombong, kini tiba-tiba menjadi malaikat baik hati dan mulai mendekati tetangga-tetangga untuk meminta bantuan. Hingga perkumpulan ibu-ibu menyindir, “Kalau miskin, gak usah ngerepotin orang juga, dong!”.

Bagaimana dengan Pak Capcay?

Dia semakin tertutup, malu dengan keadaan saat ini. Malas menyapa tetangga tentunya. Mungkin karena terlalu eksklusif dari sananya. Dan mereka menjalani hidup mereka, dengan derita….

Ya…
Derita Si Kualat…

*Kesimpulannya;

Jangan sombong dengan apa yang dimiliki saat ini, hidup bagaikan roda; ada naik dan turunnya. Selalu membantu sesama, dan jangan mencuri apa yang bukan hak kita, terlebih untuk dibagikan kepada orang yang bukan penerimanya. Hidup sederhana dan selalu bersyukur dengan kecukupan yang ada hari ini, dan yang paling penting; biasakan budaya rajin dan mandiri.”

Tamat.

Christoforus A.
2016

Iklan